Di zaman dahulu kala, tahun 1943, seorang Komandan Tentara Jepang (mualaf ceritanya) meninggal dunia karena bunuh diri. Komandan itu tergila-gila kepada seorang perawat Indonesia yang sangat cantik dan bahenol (seksi cek urang sundana mah). Cintanya tidak diterima oleh si perawat itu. Sebut saja namanya Iis Komalasari Endah (maaf kalo ada yang namanya sama). Karena termotivasi untuk terus melatih anak buahnya, di alam barkah, eh salah, di alam barzah pun dia mengatur seluruh arwah yang akan ditimbang amal baik maupun buruknya. Dia mengatur barisan, di sebelah kanan arwah-arwah yang masih berdiri sempurna. Sedangkan di sebelah kiri untuk arwah-arwah yang cacat (suster ngesot, pocong, Vampire, dan sebangsanya).
"Untuk arwah-arwah sebelah kanan saya, lencang kanan, gerak!" atur Komandan tersebut.
"Komandan, jenis tuyul asal pondok cabe izin bertanya!" sahut tuyul sambil mengangkat tangannya.
"Apa?" jawab si komandan
"Kalo yang sejenis saya berdiri di sebelah mana?" tanya tuyul
"Kamu darimana saja, botak?" si komandan balik bertanya
"Saya habis cingkiripit (pipis), ndan" jawab tuyul
"Kamu kira nama saya Ramdan, kamu panggil ndan?" jawab kesel sang komandan
"Maafkan saya, ndan. Eh, komandan!"
"Sekarang ambil 40 kali down-up!"
"Dimana ngambilnya?"
"Dina tangkal waru (logat jepang, lihat kamus kalo kagak ngarti)."
"Okeh, ndan. Eh salah lagi. Itulah!"
Tuyul pun melaksanakan perintah down-up dari sang komandan. Setelah selesai melaksanakan hukumannya, ia bertanya kembali pada komandan.
"Komandan!"
"Apalagi, botak?"
"Jadi saya dimana tempatnya?"
"Kamu atur sendiri sesuai barisannya."
_____Bersambunk_____